SBY Menyerang, Lawan Politik Meradang

INILAH.COM, Jakarta - Serangan tajam dan agresif tim sukses SBY-Boediono kembali menerjang Prabowo Subianto. Inilah taktik gaya baru dan bertolak belakang dengan kultur SBY yang selama ini dikenal santun dan tak suka menyerang. SBY sudah mengubah strateginya?
Serangan Rizal Mallarangeng memang tajam,. Serangannya jelas membakar emosi lawan-lawan politik kubu SBY, meski umumnya masih menahan diri. Misalnya soal pernyataan Prabowo bahwa dirinya pro-rakyat, yang dinilai Rizal tidak sesuai dengan kenyataan.
"Saya tidak setuju kalau Prabowo mengklaim pro-rakyat. Istilah itu kalau lihat Prabowo misalnya, emangnya apa yang dia inginkan? Kalau kita lihat track record dia, apa yang pernah dia perjuangkan untuk rakyat? Harga kudanya aja Rp 3 miliar. Tiba-tiba dia bicara istilah ekonomi rakyat," kata Cheli, panggilan Rizal.
Rizal bahkan menuding Prabowo ingin membawa bangsa ini ke ekonomi tertutup. Serangan keras Rizal itu membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Rizal dianggap terlalu menyudutkan Prabowo, seakan ada dendam tersembunyi dari Cheli untuk menghempaskan Prabowo di kancah pertarungan pilpres saat ini.
Para analis pun menyerukan agar Prabowo menahan diri dan tetap tenang, bahkan Prabowo diharapkan bersikap lugas. “Prabowo kalau perlu membujuk seluruh kader dan kubu Gerindra yang darahnya mendidih, agar membalas serangan Rizal itu dengan cara elegan. Orang tahu komitmen dan kesungguhan Prabowo menolong rakyat dari kesusahan. Dia tak ingin hanya retorika,” kata pengamat politik Nehemia Lawalata, mantan sekretaris Prof Sumitro Djojohadikusumo.
Pengamat politik UI Arbi Sanit juga menilai, bila Rizal Malarangeng tetap bersikeras melanjutkan gaya serang dan sindirannya itu, lebih baik ia menghindar. "Sebab nanti akan jadi kambing hitam ketika SBY kalah, dia akan disalahkan karena dianggap jadi gara-gara, bisa saja dituding begitu," tandasnya.
Gara-gara sindirannya yang keras pada lawan politik SBY, Rizal Malarangeng mendapat reaksi balik dari kalangan Partai Demokrat. Rizal dinilai membuat citra SBY terpuruk, karena terlalu agresif menyerang pesaing politiknya. Bila sudah terjadi beda gaya strategi kampanye, disarankan Rizal mengundurkan diri dari tim sukses pasangan SBY-Boediono.
"Budaya serang Rizal dengan SBY itu kan beda. Beda gaya, beda kultur. Seharusnya kalau sudah begitu, artinya Rizal tidak mampu menyesuaikan diri dengan SBY, ya sudah dia mengundurkan diri saja jadi tim suksesnya," kata Arbi Sanit .
Tapi para analis politik meyakini bahwa serangan Rizal itu sudah sepengetahuan SBY. Tidaklah mungkin SBY tak tahu manuver, taktik, dan strategi Rizal itu. ‘’Apa pun serangan tim sukses SBY-Boediono terhadap pesaing politik mereka, sudah pasti diketahui dan direstui kubu Cikeas. Itu soal tahu-sama-tahu saja, jadi tak usah heran,'’ kata Tisnaya Kartakusuma, seorang pemerhati politik.
Situasi terpojok memang sering kali membuat karakter seorang cepat berubah. Apalagi bila sang tokoh berambisi mempertahankan kekuasaannya. [P1]